Tradisi Dugderan sebagai Media Syiar Islam dan Pelestarian Budaya Lokal di Semarang

Authors

  • Najwa Amalia Khoir Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid, Indonesia
  • Abdul Ghofar Saifudin Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.46799/arl.v10i2.3110

Keywords:

Dugderan, syiar Islam, budaya lokal, akulturasi budaya, Semarang, Warak Ngendog

Abstract

Dugderan merupakan tradisi tahunan masyarakat Kota Semarang yang telah berlangsung sejak tahun 1881 dan diselenggarakan menjelang bulan suci Ramadan sebagai bentuk akulturasi antara nilai-nilai Islam dengan budaya lokal Jawa, Arab, dan Tionghoa. Meskipun kajian mengenai Dugderan telah banyak dilakukan dari sudut pandang historis, komunikasi, dan sosiologis, penelitian yang secara eksplisit memadukan analisis peran Dugderan sebagai media syiar Islam sekaligus sarana pelestarian budaya lokal dengan merujuk pada konsep akulturasi dan dakwah kultural masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Tradisi Dugderan sebagai media syiar Islam sekaligus sarana pelestarian budaya lokal di Kota Semarang. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif, mengkaji dua puluh dua sumber ilmiah primer berupa jurnal, buku, dan dokumen resmi yang terbit antara tahun 2005-2026. Hasil kajian menunjukkan tiga temuan utama: pertama, Dugderan berfungsi sebagai media dakwah kontekstual melalui kegiatan pengajian, doa bersama, kirab budaya, dan pengumuman awal Ramadan; kedua, simbol Warak Ngendog merepresentasikan akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa yang memperkuat identitas multikultural Kota Semarang; dan ketiga, tradisi ini tetap relevan di era modern karena mampu beradaptasi melalui pemanfaatan media digital dan dukungan pemerintah daerah tanpa kehilangan nilai-nilai intinya. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan kerangka teori akulturasi dan dakwah kultural secara eksplisit untuk membaca peran ganda Dugderan (religius dan kultural) secara bersamaan, sebuah pendekatan yang belum banyak ditemukan pada kajian-kajian terdahulu yang cenderung berfokus pada salah satu aspek saja. Dengan demikian, Tradisi Dugderan berkontribusi memperkuat identitas masyarakat Semarang serta menjaga keharmonisan sosial di tengah keberagaman budaya dan modernisasi.

Downloads

Published

2026-02-25