Kritik Etika Kantian Atas Distorsi Solidaritas Tradisi Wuat Wai di Manggarai

Authors

  • Losianus Harjon a:1:{s:5:"en_US";s:66:"Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Indonesia";}

DOI:

https://doi.org/10.46799/arl.v10i4.3097

Keywords:

“Wuat wa’i, solidaritas sosial, etika deontologis, Immanuel Kant, pendidikan, rasionalitas timbal balik

Abstract

Tradisi “Wuat wa’i” pada awalnya hadir sebagai bentuk solidaritas sosial masyarakat dalam mendukung pendidikan anak-anak yang melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, dalam perkembangan praktiknya, tradisi ini mengalami pergeseran makna dari tindakan solidaritas yang tulus menuju relasi timbal balik yang bersifat mengikat secara sosial dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan mengkaji praktik rasionalitas timbal balik dalam tradisi “Wuat wa’i” di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, serta distorsi kewajiban moral yang menyertainya dalam perspektif etika deontologis Immanuel Kant dan implikasinya terhadap pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan kunci yang terdiri atas tokoh masyarakat dan pelaku tradisi “Wuat wa’i”, dilengkapi observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik “Wuat wa’i” mengalami transformasi dari solidaritas kolektif menuju kewajiban sosial yang cenderung transaksional. Kehadiran dan pemberian masyarakat tidak lagi sepenuhnya dilandasi kesadaran moral untuk mendukung pendidikan, melainkan dipengaruhi oleh tekanan sosial dan harapan balasan di masa depan. Kondisi ini mengakibatkan distorsi nilai moral dan berimplikasi pada melemahnya makna pendidikan dalam tradisi tersebut.. Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi nilai solidaritas dalam “Wuat wa’i” agar kembali berorientasi pada pendidikan sebagai tujuan intrinsik dan bukan sebagai mekanisme pertukaran sosial.

Downloads

Published

2026-04-25