Tradisi Ber-Haji Di Gantarang dan Berkah Tanadoang Kepulauan Selayar

Main Article Content

Syakinah Syakinah
Universitas Negeri Makasar, Indonesia

Penduduk selayar masih banyak yang percaya pada dunia ghaib,roh-roh halus dan berbagai kekuatan sakti lainnya (religio-magis).meskipun penduduk kabupaten selayar mayoritas menganut ajaran agama islam,namun dalam pelaksanaan syariat sebagian besar masih diwarnai oleh sisa-sisa pengaruh ajaran agama hindu. Ajaran Hindu yang lebih awal berpengaruh di Indonesia, rupanya telah menyimpan sisa-sisa kepercayaan yang masih dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat Selayar. Realitas tersebut tercermin melalui kebiasaan membakar kemenyan (dupa), menyiapkan sesajen, bunga-bungaan terutama dalam pelaksanaan upacara keagamaan dan upacara daur hidup. Upacara tersebut terdiri atas upacara memulai penebangan hutan (membuka lahan baru), memulai penanaman padi, panen, membuat emping/hasil laut, menghindarkan diri dari wabah penyakit (songkabala), upacara meminta hujan dan lain-lain. Timbulnya kecenderungan untuk tetap mempertahankan nilai-nilai budaya (tradisi) tersebut hingga eksis sampai sekarang pada prinsipnya disebabkan oleh lingkungan.menurut kepercayaan orang-orang yang meyakini tradisi “Ber-haji di gantarang dan Berkah Tanadoang”,bahwa menunaikan sholat Idul Adha sebanyak 7 (tujuh) kali di Gantarang Lalang Bata,sama artinya atau kedudukannya dengan orang yang melakukan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah. Asumsi yang entah dalil apa yang dijadikan dasar ini, terbukti melalui kecenderungan banyak orang yang berasal dari luar Gantarang melakukan sholat Idul Adha di tempat ini


Keywords: Tradisi Ber-Haji, Berkah Tanadong, Kepulauan Selayar